Bro Rivai Sudah Susun Blue Print Pembangunan Maritim Sulsel‎, Yuk Kita Intip!

Bakal calon gubernur Sulsel, DR Ir H Abdul Rivai Ras MM MS MSi (Bro Rivai) sudah menyiapkan blueprint pembangunan sektor maritim bila ia terpilih di Pilgub 2018.

Blueprint visi maritim ini sesuai dengan program pembangunan nasional Jokowi-JK yang dikenal dengan nama Poros Maritim Dunia. Sebagai satu-satunya calon gubernur yang menempatkan aspek maritim sebagai visi utamanya, Bro Rivai meyakini Blueprint tersebut akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas dan memajukan daerah.

Sulsel sebagai provinsi yang 2/3 wilayahnya berbatasan dengan laut memiliki garis pantai sepanjang 1.973,7 km serta luas wilayah laut dan pesisir kurang lebih 60.000 km² diyakini memiliki kekayaan maritim yang besar.

“Potensi ekonomi yang terkandung dalam laut dan sepanjang pesisir Sulsel bila dikelola dengan benar akan mendatangkan devisa daerah paling sedikit 11 trilyun rupiah per tahun. Uang sebesar itu bisa digunakan untuk menggenjot pembangunan infrastruktur yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Bro Rivai pada saat merayakan Hari Maritim Nasional, Senin (21/8/2017), di Jakarta.

Pendiri dan pelopor berdirinya Universitas Pertahanan Indonesia ini menilai 309 pulau-pulau kecil yang tersebar dari Pangkep hingga Selayar dan sepanjang teluk Bone, adalah destinasi wisata bahari yang tak kalah dengan pulau-pulau di Bali, Lombok dan Papua. Sayangnya, pemerintah daerah sampai hari ini belum membangun infrastruktur konektivitas pendukung seperti shortshipping untuk mempercepat konektivitas antar pulau di Sulsel. Salah satu contoh adalah keindahan Atol Takabonerate di Selayar yang tertutupi oleh kabut transportasi yang buruk.

‎Sebagai pakar kemaritiman, Bro Rivai memandang Sulsel sebagai provinsi kaya raya yang terabaikan oleh kebijakan pemerintah. Tak perlu menggali aspek sumber daya alam, cukup membangun infrastruktur konektivitas maritim yang kuat saja, sudah lebih dari cukup untuk mengantar Sulsel menjadi provinsi yang menyaingi bandar pelabuhan internasional di Singapura.

Apalagi‎ Pelabuhan Makassar merupakan bukti timeline sejarah sebagai poros berdenyutnya kehidupan maritim sejak nun lampau. Sebelum dan setelah jatuhnya Kerajaan Gowa di tahun 1669, Pelabuhan Makassar adalah titik temu lalu lintas strategis pengelana dan penjelajah bumi, ‎simpul pelayaran dari Laut Banda ke tanah Jawa, ke barat‎. Kapal-kapal ekspedisi seperti Wallacea, pelaut dari Eropa hingga armada Jung dari Tiongkok dilaporkan menjadikan pantai Makassar di Sulawesi Selatan sebagai ruaya usaha, tempat transit sekaligus tempat loading logistik sebelum ke destinasi akhir di timur atau ke barat.

“Untuk dapat menjadi poros utama pertumbuhan maritim di Nusantara, Sulawesi Selatan harus membangun dan meningkatkan daya dukung sistem pelayaran, menghidupkan pelabuhan-pelabuhan perikanan yang mangrak dari Selayar hingga Palopo, perbaikan tata kelola kepelabuhanan, dan memodernisasinya sesuai standar internasional, perbaikan pelayanan dan akses di seluruh pelabuhan yang ada,” tandas Bro Rivai yang juga dosen Pascasarjana Universitas Indonesia.‎

Banyak yang mengira pembangunan maritim harus dilakukan di laut, padahal, aspek maritim tidak hanya berkisar soal laut saja. Justru maritim, kata Bro Rivai, berhubungan erat dengan aktivitas manusia di darat, seperti perhubungan laut, pariwisata bahari dan pantai, perikanan budidaya, dan industri pengolahan produk perikanan.