Ketua APPMBGI Ingatkan Pentingnya Keamanan Pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi sorotan publik. Program unggulan pemerintah ini memicu banyak perhatian dan perdebatan.
Sebagian masyarakat mengkritik anggaran yang besar. Selain itu, muncul kekhawatiran soal potensi penyalahgunaan dana. Risiko salah sasaran juga sering dibahas.
Tidak hanya itu, kualitas gizi makanan ikut dipertanyakan. Bahkan, ada kekhawatiran makanan tidak aman dikonsumsi. Hal ini membuat publik semakin kritis.
Meski begitu, program ini tetap memiliki potensi besar. MBG dinilai mampu memperbaiki gizi anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. Selain itu, program ini juga bisa menggerakkan ekonomi lokal.
Karena itu, pengelolaan yang baik menjadi kunci utama. Tanpa pengawasan ketat, risiko akan terus muncul. Maka, standar keamanan pangan harus diperkuat.
Badan Gizi Nasional (BGN) bahkan sempat menghentikan sementara ribuan dapur. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kualitas makanan. Selain itu, dapur diminta memenuhi standar kebersihan dan keamanan.
Isu tata kelola dapur masih menjadi perhatian. Banyak pihak menyoroti transparansi keuangan. Pengelolaan bahan pangan juga dianggap rawan penyimpangan.
Berdasarkan survei Januari 2026, sebanyak 61,7 persen masyarakat masih ragu. Mereka menilai tata kelola MBG belum sepenuhnya optimal. Hal ini menunjukkan perlunya perbaikan serius.
Selain itu, rantai pasok program cukup panjang. Proses dimulai dari bahan baku hingga ke penerima manfaat. Kondisi ini membuat pengawasan menjadi lebih sulit.
Lalu, apa saja syarat penting agar program berjalan aman? Setidaknya ada tiga sertifikasi utama yang wajib dimiliki dapur MBG.
Pertama, Sertifikat HACCP. Sertifikat ini menjadi standar manajemen risiko keamanan pangan. Pengelola dapur wajib menganalisis titik kendali kritis dalam produksi.
Proses ini mencakup banyak aspek penting. Misalnya, suhu penyimpanan bahan baku dan kebersihan memasak. Selain itu, keamanan pengemasan juga diperiksa.
Tujuannya jelas, yaitu mencegah kontaminasi. Baik kontaminasi biologis, kimia, maupun fisik harus dihindari sejak awal.
Kedua, Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Dokumen ini menjadi bukti kelayakan lingkungan dapur. Semua dapur MBG wajib memilikinya.
Pengurusan dilakukan melalui sistem OSS RBA dan portal Kemenkes. Setelah itu, Dinas Kesehatan akan melakukan verifikasi lapangan. Mereka memeriksa air bersih dan instalasi limbah.
Selain itu, penjamah makanan juga harus memiliki pelatihan. Hal ini penting untuk menjaga standar kebersihan. Karena itu, SLHS menjadi syarat dasar yang wajib dipenuhi.
Ketiga, Sertifikat Halal. Semua penyedia makanan dalam program wajib memilikinya. Sertifikat ini menjamin bahan dan proses sesuai syariat Islam.
Pendaftaran dilakukan melalui portal resmi halal. Dengan begitu, masyarakat merasa lebih tenang. Terutama bagi lingkungan sekolah dan pesantren.
Di sisi lain, pemerintah telah menyiapkan sanksi tegas. Aturan ini tertuang dalam Perpres, keputusan BGN, dan Undang-Undang Pangan. Sanksi diberikan jika terjadi pelanggaran.
Pelanggaran ringan akan mendapat teguran tertulis. Namun, pelanggaran serius bisa berujung penutupan dapur. Bahkan, kontrak kerja sama dapat diputus.
Selain itu, dapur yang tidak memenuhi standar bisa dihentikan operasinya. Langkah ini penting untuk mencegah keracunan massal. Keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas.
Jika kelalaian menyebabkan dampak berat, sanksi pidana dapat diterapkan. Aturan ini mengacu pada Undang-Undang Pangan dan KUHP. Jadi, pelaku bisa dikenai hukuman serius.
Ketua Umum APPMBGI, Dr. Abdul Rivai Ras, menegaskan pentingnya pencegahan risiko. Ia meminta seluruh pengurus daerah lebih aktif. Edukasi dan sosialisasi harus terus dilakukan.
Menurutnya, literasi menjadi kunci keberhasilan program. Semua anggota harus memahami standar keamanan pangan. Dengan begitu, risiko dapat ditekan.
Ia juga menekankan pentingnya pengawasan berkelanjutan. Program MBG harus memberikan manfaat nyata. Jangan sampai program ini justru merugikan masyarakat.
“Program ini harus kita kawal bersama. Tujuannya agar benar-benar bermanfaat,” ujarnya.
Dengan langkah yang tepat, MBG bisa berjalan optimal. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Selain itu, kepercayaan publik juga bisa kembali tumbuh.




