Opini / News
Rivai Ras; Akar Masalah Begal Harus Dituntaskan

Mewujudkan rasa aman bukanlah suatu hal mudah,sepele,nan gampang.Terlebih lagi bila dihadapkan dengan kompleksitas dan kemajemukan.
Stabilitas keamanan dengan tetap menjunjung tinggi sendi dasar Demokrasi merupakan kunci mendasar pembangunan kesejahteraan.Mewujudkan stabilitas keamanan di tengah proses berseminya demokrasi sungguh penuh tantangan.
Pembangunan kesejahteraan sangat memerlukan stabilitas keamanan, sebagai penopang utama pesatnya pertumbuhan perekonomian dan sendi sendi kesejahteraan masyarakat.
Sulawesi selatan terutama makassar beberapa tahun terakhir ini kita disuguhkan berita berita adanya fenomena Begal dan premanisme jalanan khususnya kendaraan roda dua (sepeda motor).Biasanya kelompok begal ini beroperasi tengah malam, mulai jalm 22.00 hingga jam 04.00 pagi. Mereka bergerombol dan mencari mangsanya di jalan raya yang sepi.Dengan cara mepepet mangsanya lalu mengejar dan bahkan melakukan kekerasan yang tidak jarang membunuh hingga berjatuhan korban jiwa.
Kita masih ingat aksi para begal makassar,ketika kembali memakan korban, “Musyarrafah” seorang aktifis Muhammadyah yang juga merupakan Wakil Ketua Nasyatul Aisyah Provinsi Sulawesi Selatan meregang nyawa setelah tak kuasa melawan aksi begal.
Begal dan kekerasan jalanan menjadi teror tersendiri bagi warga Kota Makassar dan sekitarnya.Jika kita membaca koran lokal, setiap harinya seolah tidak pernah luput memberitakan aksi para preman jalanan ini,atau kita mensearching di internet,maka puluhan berita mengenai kasus pembegalan di Makassar dapat kita baca..Menyaksikan semakin maraknya aksi begal,maka tidak salah jika sebagian warga masyarakat menganggap Kota Makassar dan sulawesi selatan semakin tidak aman.
Aksi begal sudah bukan hanya persoalan kenakalan remaja biasa,tapi menjurus pada kejahatan luar biasa.
Oleh karena itu, penangannya pun harus dilakukan secara sistematis dan komprehensif dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Penangannya tidak boleh hanya didekati dengan pendekatan penegakkan hukum semata, tetapi harus melalui diagonasa dan pemetaan anatomi sehingga akar persoalannya dapat ditemukan. Penegakkan hukum (meskipun juga sangat penting), ibarat hanya memangkas rantingnya, tapi tidak mencabut akar akarnya.
Pemerintah sulawesi selatan kedepan harus serius dan wajib melakukan upaya serius untuk mencegah semakin maraknya perilaku kejahatan jalanan ini.Karena jika tidak,maka rakyat tidak akan percaya lagi dengan pemerintahnya, dan dalam tatanan masyarakat demikian, rakyat akan bergerak dengan logika hukumnya sendiri.
Masalah ekonomi dan kondisi sosial dapat membuat orang menjadi nekat.Kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial bisa menjadi kambing hitamnya.Masalah perut kadang membuat seseorang melakukan tindakan apa saja tanpa pikir panjang, asal perut dapat terisi dan dapur terus mengepul tidak peduli apakah itu melanggar hukum dan berisiko tinggi.




